SUKOHARJO — Javanewsonlie.co.id | Keberhasilan Bebek Goreng H. Slamet menjadi salah satu ikon kuliner Nusantara tidak diraih secara instan. Sang pendiri, almarhum H. Slamet Rahardjo, sempat mengalami kegagalan sebanyak empat kali sebelum akhirnya berhasil membangun imperium bisnis yang kini memiliki lebih dari 100 cabang di dalam dan luar negeri.
Penerus usaha Bebek Goreng H. Slamet, Zul, mengungkapkan bahwa perjalanan bisnis sang kakek dimulai dari tingkat yang sangat sederhana, yakni menggunakan gerobak hingga menyewa tempat kecil di Kartasura, Jawa Tengah. Berdiri sejak 1986, kedai pertama di Kartasura menjadi cikal bakal berkembangnya bisnis keluarga tersebut.
“Eyang baru berhasil pada kali keempat bikin usaha kuliner. Awalnya menyewa tempat kecil, lalu bisa beli tempat sendiri dan terus maju,” kata Zul.
Di balik kesuksesan tersebut, almarhum menerapkan prinsip keseimbangan antara kehidupan duniawi dan akhirat. Di kedai utama Kartasura, operasional hanya berlangsung mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Pukul dua siang, kedai wajib tutup tanpa kompromi agar seluruh pekerja memiliki kesempatan untuk beribadah dan tidak semata-mata mengejar target materi.
Selain itu, kedai utama tetap mempertahankan konsep konvensional dengan tidak menggunakan sistem pembayaran elektronik, pesanan antar daring, maupun buku menu digital demi menjaga prinsip kehati-hatian yang dipegang almarhum.
Kini, bisnis kuliner yang diteruskan oleh anak dan cucunya tersebut juga turut menggerakkan ekosistem ekonomi kerakyatan, mulai dari peternak bebek lokal, petani sayur, hingga pedagang beras dan cabai.
Tak hanya fokus pada bisnis, keluarga besar almarhum secara rutin menyalurkan keberkahan usaha melalui berbagai kegiatan sosial, seperti bantuan untuk santri penghafal Alquran, santunan anak yatim, hingga khitanan massal. (Agus)

