Suasana buka puasa di Sapphire Sky Hotel Serpong terasa berbeda ketika tari sufi berputar anggun, menghadirkan perpaduan estetika seni dan makna spiritual Ramadhan
Senja Ramadhan perlahan turun di lobi Sapphire Sky Hotel. Aroma hidangan berbuka mulai memenuhi ruangan, sementara para tamu duduk menunggu azan magrib. Di tengah suasana hangat itu, sebuah panggung kecil menjadi pusat perhatian. Musik bernuansa mistik perlahan mengalun, lalu seorang penari dengan jubah putih panjang mulai berputar.

Ia adalah Fajar, penari muda yang membawakan tarian sufi sebuah tarian spiritual yang dikenal luas sebagai Whirling Dervishes. Dengan gerakan berputar perlahan, lalu semakin cepat, Fajar seakan membawa para tamu memasuki ruang sunyi yang penuh makna.
Bagi sebagian orang, tari sufi seringkali hanya dipahami sebagai “tarian berputar” yang membuat penarinya pusing. Namun di balik gerakan yang tampak sederhana itu, tersimpan filosofi spiritual yang dalam: perjalanan manusia menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.

General Manager Sapphire Sky Hotel dan Yasmin Hotel Karawaci, Yohanes Parwoto, mengatakan pertunjukan tari sufi sengaja dihadirkan untuk memberikan pengalaman Ramadhan yang berbeda bagi para tamu.
“Tahun lalu kami juga menggelar pertunjukan serupa, bahkan dipadukan dengan lagu-lagu religi Ramadhan. Respons tamu sangat positif karena tarian ini unik dan sarat makna,” ujarnya.

Ketika azan magrib berkumandang, sebagian tamu tetap menyempatkan diri menatap panggung. Putaran Fajar seakan tidak terputus, tetap stabil dan anggun, meski tubuhnya terus bergerak 360 derajat tanpa henti.
Bagi Fajar, perjalanan menjadi penari sufi dimulai sejak remaja. Pria kelahiran Brebes itu pertama kali mengenal tarian ini saat masih berusia sekitar 15 tahun ketika mengikuti pengajian di Pekalongan. Saat itu, ia terpukau melihat sepasang penari sufi berputar dengan gerakan yang elegan.
“Waktu itu saya merasa gerakannya sangat indah. Dari situ muncul keinginan untuk belajar,” katanya.
Sejak saat itu, Fajar mulai berlatih secara serius. Ia kemudian berguru kepada KH Amin Budi Harjono, seorang dai sekaligus budayawan yang dikenal aktif memperkenalkan tari sufi di Indonesia.
Menurutnya, menari sufi bukan sekadar soal teknik menjaga keseimbangan tubuh saat berputar. Lebih dari itu, penari harus mampu menghadirkan energi positif dan rasa cinta universal.
“Kalau menari dengan kesadaran spiritual, penari tidak akan merasa pusing walau berputar terus-menerus,” ujarnya.
Meski berakar dari tradisi spiritual Turki, tari sufi kini berkembang di berbagai negara. Di kota-kota kosmopolitan seperti Dubai, bahkan banyak kalangan non-Muslim yang mempelajarinya sebagai bentuk seni sekaligus meditasi.
Di Indonesia sendiri, minat terhadap tari sufi juga semakin berkembang, terutama di kalangan generasi muda. Fajar pun tidak hanya tampil pada acara keagamaan seperti Ramadhan, tetapi juga di berbagai perayaan, mulai dari pesta pernikahan hingga acara pergantian tahun.
Bagi pihak hotel, menghadirkan pertunjukan ini bukan sekadar hiburan bagi tamu. Lebih dari itu, ada upaya menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang menyentuh sisi budaya dan spiritual sekaligus.
Di tengah hiruk-pikuk kota dan kesibukan Ramadhan, putaran tari sufi di lobi hotel itu menjadi pengingat sederhana: bahwa perjalanan spiritual manusia kadang dimulai dari gerakan kecil berputar, kembali, dan mendekat kepada Yang Maha Esa.##

