Keselamatan menjadi prioritas di tengah ancaman gelombang tinggi dan angin kencang

Pulau Sembilan — Javanewsonline.co.id | Suara ombak yang meninggi di perairan Pulau Sembilan menjadi pertanda datangnya cuaca tak bersahabat. Kepolisian Sektor (Polsek) Pulau Sembilan tak ingin mengambil risiko. Rabu, 12 November 2025, mereka mengeluarkan peringatan dini sekaligus larangan sementara bagi para nelayan untuk tidak melaut.

Kapolsek Pulau Sembilan, IPTU Agus Riyanto, mengatakan keputusan itu diambil setelah pihaknya menerima laporan kondisi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Laporan menunjukkan adanya peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang di sekitar Pulau Sembilan dan Marabatuan.

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Keselamatan nyawa adalah yang utama. Hasil tangkapan yang melimpah tidak ada artinya jika nyawa menjadi taruhannya,” ujar Agus dalam keterangan tertulis yang diterima Javanewsonline.co.id .

Larangan itu, kata Agus, bersifat sementara hingga kondisi laut benar-benar dinyatakan aman. Polsek meminta nelayan untuk menunda seluruh aktivitas pelayaran dan menekankan pentingnya prinsip “utamakan keselamatan jiwa di atas hasil tangkapan.”

Imbauan tersebut tidak hanya ditujukan kepada para nelayan, tetapi juga kepada warga pesisir agar turut menyebarkan informasi ini ke komunitas masing-masing. Polsek berharap koordinasi antarwarga dan aparat bisa membantu meminimalkan potensi kecelakaan laut.

Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Pulau Sembilan memang dikenal rawan cuaca ekstrem, terutama menjelang akhir tahun. Gelombang tinggi kerap memutus akses antar-pulau dan menghambat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada laut.

Polsek Pulau Sembilan, lanjut Agus, akan terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG dan instansi terkait. Bila situasi kembali kondusif, pihaknya akan segera menginformasikan kepada masyarakat.

“Keselamatan masyarakat nelayan menjadi prioritas utama kami. Jangan memaksakan diri melaut di tengah cuaca ekstrem,” tegasnya.

Bagi warga Pulau Sembilan, laut bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga arena perjuangan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, memilih untuk tetap di darat berarti menjaga kehidupan bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga yang menunggu di rumah. (Lana)