Ambon – Javanewsonline.co.id | Pemerintah Kota Ambon dan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease diminta untuk segera membangun pos pengamanan terpadu di kawasan Lapangan Segitiga, tepatnya di sudut dekat Kantin PKK, yang berbatasan langsung dengan Kantor Gubernur Maluku. Permintaan ini mencuat menyusul meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya perkelahian antar pelajar dan kelompok pemuda yang hampir setiap hari terjadi di kawasan tersebut.

Pantauan Kompas, lokasi sekitar Lapangan Merdeka dan Lapangan Segitiga Ambon menjadi titik rawan aksi kekerasan jalanan. Sejumlah warga, pengemudi ojek daring, sopir becak, dan pengguna jalan mengaku resah dengan keberadaan kelompok anak muda yang kerap mangkal di area itu, terutama pada sore hingga malam hari.

“Mereka sering bikin onar. Kadang menyetop becak, lalu memukul pengemudinya. Kami sudah sangat terganggu,” ujar seorang sopir Maxim yang biasa mangkal di depan Gereja Maranatha, Selasa (29/4/2025) sore.

Kekhawatiran warga memuncak saat terjadi insiden pemukulan terhadap seorang pelajar yang terjatuh dari sepeda motor. Saksi mata mengaku melihat korban dipukuli oleh sekelompok pemuda tanpa ada upaya menolong. Kejadian tersebut sontak memicu kemarahan warga sekitar.

“Anak itu jatuh, bukan dibantu malah dipukul sampai berdarah. Kami semua marah, tapi saat kami hendak menolong, mereka langsung lari,” ujar seorang warga yang menyaksikan peristiwa itu.

Kejadian serupa juga pernah terjadi saat digelar acara publik di kawasan Lapangan Segitiga beberapa waktu lalu. Menurut pengakuan salah satu pengemudi ojek motor, perkelahian antar kelompok kerap terjadi bahkan saat acara-acara resmi berlangsung.

Menindaklanjuti insiden tersebut, jurnalis Demokrasi Maluku mendapati seorang anggota polisi dan petugas Satpol PP tengah berbicara dengan seorang pria dan anak laki-laki berseragam sekolah di depan Kantor Gubernur Maluku. Petugas menyebutkan bahwa anak tersebut adalah korban pemukulan yang sebelumnya juga sempat diancam dengan senjata tajam.

Situasi sempat kembali memanas ketika sekelompok pelajar datang bersama kakak korban untuk melakukan aksi balasan. Namun, upaya pembalasan tersebut berhasil dicegah aparat keamanan yang berjaga di lokasi.

Menyikapi kondisi ini, sejumlah warga mendesak pemerintah kota dan aparat kepolisian untuk menempatkan pos pengamanan permanen yang melibatkan unsur TNI-Polri guna menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya di kawasan Lapangan Merdeka dan Lapangan Segitiga yang padat aktivitas.

“Pos keamanan sangat dibutuhkan di sini. Kalau perlu, gabungan TNI dan polisi supaya bisa meredam tindakan-tindakan brutal ini. Jangan sampai menimbulkan korban lebih parah,” ujar salah satu warga di sekitar Kantor Gubernur.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Ambon maupun Polresta Ambon terkait rencana penanganan jangka panjang atas konflik remaja yang marak terjadi di area publik ini. (Ritta)