Oleh :Muhammad Mukhlis

Beberapa minggu yang lalu, band asal Inggris Coldplay, menginformasikan melalui akun twitter resminya official@coldplay akan mengadakan tur konsernya untuk menyapa para penggemarnya di asia, dan eropa, termasuk di Indonesia, para penggemar langsung menyambutnya dengan sangat antusias dan langsung menjadi trending 1 twitter. Hal ini terbukti dari penjualan tiket konser yang tidak sampai 1 jam sudah sold out. Hal tersebut karena, band dengan aliran music Rock yang satu ini, untuk pertama kalinya melakukan konser di Indonesia, yang akan di gelar di Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), pada tanggal 15 November 2023, dengan konser yang bertajuk “Coldplay Music of The Spheres World Tour”.dengan mengusung konser yang ramah lingkungan.

Namun, sebelum membahas lebih jauh tentang konser yang ramah lingkungan, mungkin akan muncul pertanyaan di benak kita, mengapa masyarakat begitu antusias akan konser Coldplay ini, tingginya antusiasme membuat para penggemar rela merogoh kocek dalam-dalam, bahkan sampai meminjam uang, hanya untuk melihat band favoritnya beraksi di atas panggung. Berita ini juga sampai mengalahkan berita tentang kasus narkoba yang menjerat Jendral Polisi Teddy Minahasa dan peninjauan jalan rusak oleh presiden RI Jokowi dodo, di beberapa daerah.

Cult Branding
Fenomena ini menunjukkan kekuatan dari apa yang disebut sebagai “Cult Branding”. Ini adalah kekuatan yang melampaui batas-batas logika dan rasionalitas, mendorong individu untuk melakukan tindakan yang mungkin tidak mereka lakukan dalam keadaan normal. Ini adalah kekuatan yang melibatkan pengalaman emosional dan sosial, menciptakan ikatan yang begitu kuat antara penggemar dan brand, sehingga mempengaruhi perilaku konsumen secara signifikan.

Coldplay, dalam hal ini, bukan hanya sekadar band musik. Bagi para penggemarnya, mereka adalah bagian dari gaya hidup, bagian dari identitas mereka. Mereka memberikan pengalaman yang tak terlupakan dan nilai-nilai yang bisa dipercaya. Dan melalui komitmen terhadap kualitas musik dan interaksi dengan penggemar, mereka berhasil menciptakan komunitas penggemar yang loyal dan berdedikasi.

Namun, “Cult Branding” juga memiliki sisi lainnya. Keterikatan emosional yang kuat dapat mendorong individu untuk membuat keputusan yang mungkin tidak sehat, seperti meminjam uang untuk membeli tiket konser. Oleh karena itu, penting untuk masyarakat memahami dan mengenali fenomena ini, serta mempertimbangkan dampaknya sebelum membuat keputusan.

Konsep “Cult Branding” ini bukanlah ide baru. Teori Abraham Maslow tentang “Hierarchy of Human Needs” menjelaskan bagaimana manusia memiliki kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Tetapi begitu kebutuhan dasar ini terpenuhi, manusia kemudian mulai mencari pengalaman dan pencapaian yang lebih tinggi, seperti interaksi sosial dan penghargaan diri. Inilah yang memungkinkan “Cult Branding” menjadi begitu kuat dan berpengaruh.

Perusahaan dengan “Cult Brands” sukses karena mereka memahami dan memanfaatkan motivasi dan perilaku manusia ini. Mereka tidak hanya fokus pada menjual produk atau jasa, tetapi juga pada memenuhi kebutuhan tingkat tinggi seperti rasa hormat, interaksi sosial, dan aktualisasi diri.

Coldplay, Kampanye Ramah Lingkungan
Colplay juga salah satu pendonor bagi organisasi lingkungan seperti Rainforest Foundation dan Global Citizen. Dalam konsernya, Coldplay berjanji sebisa mungkin menggunakan energi baru terbarukan atau energi yang lebih ramah seperti solar, biofuel dan kinetik guna menghindari energi fosil.

Chris Martin dkk, sempat mengatakan tidak akan mengadakan tour konser, sampai mereka mampu menggelar konser dengan konsep ramah lingkungan, dikutip Dikutip dari laman sustainability.coldplay.com, Coldplay mengusung 3 prinsip dalam setiap konsernya.
• Reduce: Mengurangi konsumsi, melakukan daur ulang secara ekstensif, dan memangkas 50% emisi CO2.
• Reinvent: Mendukung teknologi hijau dan mengembangkan metode tur yang berkelanjutan dan rendah karbon.
• Restore: Menggelar tur yang bermanfaat bagi lingkungan dengan mendukung proyek-proyek berbasis alam dan teknologi dan menekan sebanyak mungkin emisi CO2.

Coldplay juga menerapkan beberapa langkah dan aturan terkait energi, perjalanan, panggung konser, penggemar, pengelolaan sampah, hingga merchandise dalam agenda tur mereka, di antaranya:
• Energi: Memasang panel fotovoltaik surya di setiap konser; memakai biofuel tipe HVO (minyak nabati yang dihidrolisis); memasang lantai kinetik di sekitar stadion dan sepeda pedal penghasil listrik.
• Perjalanan: Membayar biaya tambahan untuk menggunakan atau memasok Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF).
• Panggung pertunjukan: Membangun panggung dengan material rendah karbon dan dapat digunakan kembali; membuat gelang LED untuk penonton dari 100% bahan nabati yang dapat dikomposkan; dan mengurangi produksi gelang hingga 80% dengan mengumpulkan, mensterilkan, dan mengisi ulang setiap pertunjukan selesai.
• Penggemar: Meluncurkan aplikasi tour yang mendorong para penggemar untuk menggunakan transportasi rendah karbon untuk menuju dan pulang dari konser dan memberikan diskon harga tiket kepada penggemar yang mau berkomitmen.
• Merchandise: Membuat merchandise dari serat alami dan elemen yang dapat didaur ulang.
• Pengelolaan Sampah: Mengeliminasi penjualan air dengan kemasan botol plastik sekali pakai, mendorong produsen untuk membuat program daur ulang di dalam stadion; dan membantu membersihkan sampah di luar konser.
“Saat kami memutuskan untuk kembali melakukan tur, kami berpikir, ‘Ya, tentu kami ingin tur, namun kami perlu mengubah cara kami mengonsumsi energi, dan bagaimana kami mesti berhenti mengambil dan mulai memberi sesuatu untuk lingkungan.’ Lalu kami merekrut beberapa orang untuk memastikan konser kami tetap hijau, baik dalam aspek energi, transportasi, ya semuanya,” kata Chris Martin dalam wawancara dengan Najwa Shihab. ((Sumber: Exclusive Interview with Chris Martin of Coldplay Mata Najwa).

Indonesia Kampanye Ramah Lingkungan

Indonesia mendapat predikat sebagai negara super power dalam pengendalian perubahan iklim. Hal itu diungkap oleh Alok Sharma Presiden Konferensi Perubahan Iklim Dunia (COP) ke 26 di Glasgow Inggris akhir tahun 2021. Predikat ini menjadi semangat Indonesia untuk terus meningkatkan aksi-aksi iklim demi menjaga suhu bumi tidak meningkat lebih dari 2 derajat Celcius. “Oleh karena itu jika kita semua tidak bisa menjaga kenaikan suhu ini kita akan kehilangan banyak sekali ekosistem penting,” ujarnya pada acara Refleksi Kinerja KLHK Tahun 2022, di Jakarta

Beberapa prestasi dari peningkatan ambisi iklim yang diraih di tahun 2022 antara lain: (1) Indonesia merupakan salah satu negara berkembang anggota G20 yang mempunyai kebijakan FOLU net-sink 2030, (2) Indonesia merupakan salah satu dari 39 negara yang meningkatkan ambisi Nationally Determined Contribution (NDC)nya melalui Enhanced NDC per 23 September 2022 dengan peningkatan target penurunan emisi GRK Indonesia dengan kemampuan sendiri menjadi 31,89% dan target dengan dukungan internasional menjadi 43,20%. Kemudian ke (3) Saat ini Indonesia adalah satu-satunya negara penerima Result Based Payment (RBP) REDD+ dari GCF (USD 103 Juta), Norwegia (USD 56 juta) dan FCPF (USD 20,9 juta), Komitmen total BioCF (USD 70 juta) dan FCPF (USD 120 juta), (4) Indonesia merupakan salah satu negara yang mengajukan dan memperbarui komunikasi adaptasi secara berkala. (5) Indonesia merupakan salah satu negara yang mengeluarkan peraturan Carbon Pricing yang meliputi Artikel 5 dan Artikel 6 Persetujuan Paris, serta yang terbaru (6) Indonesia telah meratifikasi Amandemen Kigali lewat Peraturan Presiden No. 129 tahun 2022 yang menjadikan HFC sebagai komitmen gas baru dalam NDC Indonesia. (https://www.menlhk.go.id).

Kemajuan Indonesia dalam menangani pengendalian perubahan iklim tidak terlepas dari kesadaran dan komitmen dari seluruh lapisan, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah sampai kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Coldplay, bukan hanya sedekar melakukan tour untuk menyapa para penggemarnya, tetapi juga membawa misi untuk menyelamatkan lingkungan. Coldplay telah memberi contoh menciptakan konser ramah lingkungan, hal ini merupakan langkah penting dalam industri musik. Mereka menetapkan standar baru dan mendorong industri musik untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

(Penulis Adalah Mahasiswa Pascasarjana KPI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

By

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.