Pelalawan – Javanewsonline.co.id | Misteri ribuan ikan berbagai jenis yang ditemukan mengambang dan mati di Sungai Kampar, tepat di depan permukiman Desa Sering, Pelalawan, Riau, terus memicu kegelisahan warga.

Dampaknya, sejumlah tugboat yang menarik tongkang berisi ribuan ton kayu eucalyptus untuk kebutuhan pabrik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dihentikan dan dilarang melintas oleh masyarakat hingga penyebab kematian ikan tersebut terungkap.

Kematian ikan yang terjadi sepanjang November 2025 ini disebut warga sudah dua kali terjadi. Fenomena itu memunculkan beragam dugaan dan kecurigaan mengenai sumber pencemar di aliran sungai.

Warga menilai pemerintah daerah, khususnya Pemkab Pelalawan, belum menunjukkan langkah tegas. Hal ini memunculkan tanda tanya di kalangan masyarakat.

Warga Curiga Ada Masalah pada Aliran Sungai

Budi, warga Desa Sering, saat ditemui awak media di atas kapal pada Minggu (23/11/2025), mengaku bahwa kematian ikan biasanya berkaitan dengan turunnya limbah. Namun ia tidak mengetahui secara pasti sumber kematian ribuan ikan tersebut. “Kalau limbah turun, ikan ada juga yang mati. Tapi soal pabrik rayon atau apa penyebabnya, kami tidak tahu,” ujar Budi.

Ia berharap PT RAPP segera turun tangan mencari dan menyelesaikan penyebab fenomena yang terjadi berulang sepanjang November ini. “Katanya kita buang kotoran di sungai, ikan mati. Kita dengar-dengar seperti itu. Tapi kami ingin masalah ini cepat diselesaikan,” katanya.

Tongkang Berhenti Total, Nahkoda Diminta Putar Balik

Di lokasi yang sama, seorang nahkoda ponton, Erwin, juga membenarkan bahwa warga meminta seluruh tongkang untuk tidak melintas. “Jangan melintas di Desa Sering, putar dulu,” ujar Erwin.

Erwin menjelaskan bahwa tongkang yang dibawanya berisi kayu eucalyptus dari Pulau Meranti untuk dibongkar di pabrik PT RAPP. Setiap tongkang mengangkut antara 1.600–2.000 ton. Biasanya, dalam kondisi normal, ia bisa melakukan dua hingga tiga trip setiap bulan.

“Kalau masalah di Desa Sering ini tidak selesai, kami tidak bisa melintas. Kalau warga suruh minggir, ya kami minggir. Tidak boleh lewat,” tegasnya.

Desakan Penanganan Serius

Masyarakat meminta pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan pihak terkait untuk melakukan investigasi menyeluruh. Mereka menilai kematian ikan dalam jumlah besar merupakan indikasi serius yang harus ditangani ilmiah dan transparan.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah maupun PT RAPP terkait dugaan pencemaran atau penyebab pasti fish kill di Sungai Kampar.

Warga mendesak agar aktivitas tongkang tidak dilanjutkan sebelum misteri kematian ikan terjawab dan langkah penanganan dilakukan. “Kalau belum ada penyelesaian, jangan ada dulu kapal yang lewat,” kata Budi. Situasi di Desa Sering masih memanas, dan masyarakat menunggu langkah cepat dari Pemkab Pelalawan serta pihak industri untuk memastikan keamanan ekosistem Sungai Kampar dan keselamatan mata pencaharian warga yang bergantung pada sungai tersebut. (Erizal)