Oleh : Syamsurijon
Program Green Policing memboyong personel Polres Kepulauan Mentawai dan warga Tuapeijat menyapu sampah pesisir. Sebuah ikhtiar merawat pariwisata dan memupuk sinergi di tanah peselancar.
Angin pesisir Sipora Utara berembus membawa aroma garam yang pekat pada Jumat pagi, 6 November 2026. Di sepanjang garis Pantai Jati, Tuapeijat, riak ombak bertolak belakang dengan kesibukan puluhan orang di atas pasir. Mengenakan kaus dinas dan pakaian santai, personel Polres Kepulauan Mentawai menyatu bersama warga setempat, menyusuri sudut-sudut pantai sembari memungut sampah plastik dan serpihan kayu yang terdampar.

Pantai Jati bukan sekadar panorama rutin bagi warga Mentawai. Pesisir ini merupakan gerbang awal sekaligus ikon yang menyapa wisatawan lokal maupun mancanegara sebelum mengejar ombak kelas dunia yang tersohor di Kepulauan Mentawai. Namun, riuh gelombang tak melupakan ancaman laten yang mengintai: tumpukan sampah yang berpotensi merusak daya pikat sang surga peselancar.
Aksi bersih-bersih yang bertepatan dengan semangat gotong royong itu digulirkan sebagai langkah konkret di lapangan. Pelaksana Tugas (Plt.) Kapolres Kepulauan Mentawai, AKBP Nendra Madya Tias, S.I.K., memimpin langsung giat ini di tengah riuh swadaya warga.
“Melalui kegiatan ini, kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan pantai serta tidak membuang sampah sembarangan,” kata Nendra di sela-sela aksi gotong royong. Bagi kepolisian setempat, aksi tersebut memuat pesan ganda: merawat alam berlandaskan prinsip kebersihan lingkungan, sekaligus merajut komunikasi informal dengan warga pesisir.
Langkah Polres Kepulauan Mentawai ini mengekor pada program Green Policing, salah satu agenda prioritas Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Aryo Seto. Konsep ini mendorong institusi kepolisian tak sekadar berdiri sebagai aparat penegak hukum dan penjaga keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas), melainkan meluas menjadi pemantik kepedulian ekologis di wilayah hukum masing-masing.
Bagi Tuapeijat, pesisir yang bersih adalah modal utama denyut ekonomi pariwisata. Kawasan pantai yang tertata, sehat, dan nyaman diyakini bakal memperkuat daya magnet Mentawai di mata turis asing.
Di luar persoalan sampah, interaksi langsung tanpa jarak antara aparat dan masyarakat di atas hamparan pasir Pantai Jati menjadi ruang diplomasi sosial yang efektif. Kebersamaan dalam menyapu sampah hari itu memercikkan harapan sederhana: stabilitas keamanan dan kelestarian alam Mentawai dapat terus berjalan berdampingan.

