Donggala –  aJavanewsonline.co.id | Langit Donggala, Sulawesi Tengah, berwarna-warni selama lima hari berturut-turut. Dari 23 hingga 27 September 2025, Kabupaten Donggala menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Donggala Layangan Festival Piala Bupati pertama. Ajang ini tercatat sebagai kejuaraan layangan pertama yang digelar pemerintah daerah di level kabupaten dan provinsi, sekaligus menandai babak baru bagi dunia olahraga tradisional di Indonesia.

Festival berlangsung di Area Pelabuhan Lama, Kecamatan Banawa, Kelurahan Boya, yang langsung dipadati penonton sejak hari pembukaan. Sebanyak 16 tim dari berbagai daerah di tanah air ikut berkompetisi. Mereka datang dari Makassar, Sorong, Kalimantan, Samarinda, Bontang, Balikpapan, Gorontalo, Manado, Bitung, Palu, Situbondo, Kotamobagu, Karawang, Jakarta, hingga Bandung.

Hadir pula jajaran pejabat daerah: Ketua DPRD Donggala Moh. Taufik, Sekretaris Daerah Rustam Efendi, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, para kepala OPD, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Donggala beserta jajaran, serta masyarakat luas. Kehadiran mereka menambah meriah suasana, menjadikan festival ini lebih dari sekadar perlombaan, melainkan pesta rakyat.

Wakil Bupati Donggala, Taufik M. Burhan, membuka festival dengan penuh syukur. Ia menegaskan kejuaraan layangan ini sejalan dengan visi pembangunan daerah yang menekankan kreativitas, sportivitas, dan keberlanjutan. “Kepada seluruh peserta saya ucapkan selamat berlomba, tunjukkan kreativitas terbaik, junjung tinggi sportivitas, dan jadikan festival ini sebagai ajang silaturahmi. Mari tumbuhkan kebanggaan bersama terhadap Donggala yang kita cintai,” ujar Taufik.

Kompetisi berlangsung dalam tiga kategori: Layangan Aduan dengan 256 slot, Layangan Tradisional, dan Layangan Kreasi. Pertandingan tidak hanya menguji keterampilan mengendalikan layangan, tetapi juga memperlihatkan kekayaan tradisi dan inovasi anak negeri.

Penutupan festival berlangsung meriah. Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, hadir bersama suami, Ronny Tanusaputra. Mereka berkeliling menyapa satu per satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memamerkan produk lokal. Pameran UMKM menjadi bagian penting festival, menjadikannya ruang bagi pengusaha kecil menampilkan karya serta menjalin jejaring baru.

Dalam sambutannya, Vera mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari berbagai daerah. Ia juga memberi apresiasi khusus kepada para pemenang lomba. “Teruslah berkarya, pertahankan prestasi, dan jadikan kemenangan ini sebagai motivasi untuk meraih pencapaian lebih tinggi,” ujarnya.

Namun, menurut Vera, yang terpenting dari festival ini bukan sekadar piala. “Kegiatan ini adalah perayaan budaya, kreativitas, dan persaudaraan. Kehadiran para peserta dari berbagai daerah merupakan kehormatan besar bagi Donggala. Layangan tidak hanya memperindah langit, tetapi juga mengangkat nama daerah ke tingkat nasional,” katanya.

Bupati Donggala berharap festival layangan dapat terus dikembangkan menjadi agenda tahunan yang lebih besar dan kreatif. “Insya Allah dengan semangat yang sama, tahun depan kita akan bertemu kembali dalam festival yang lebih mendunia. Saya mengajak masyarakat Donggala memeriahkan kembali festival ini dan menjadikannya kalender wisata tahunan yang membawa dampak nyata bagi ekonomi rakyat, pariwisata, dan budaya bahari kita,” ujar Vera.

Ia menambahkan, aspek keberlanjutan tetap menjadi perhatian utama. Festival harus digelar dengan aman, tertib, serta menjaga kebersihan lingkungan. Pesan ini sejalan dengan semangat menjadikan olahraga tradisional sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Festival layangan di Donggala memiliki makna berlapis. Ia melestarikan permainan tradisional yang sudah berusia ribuan tahun, mempromosikan pariwisata daerah, serta memperkuat ekonomi kreatif lewat UMKM. Lebih dari itu, festival menjadi ruang perjumpaan lintas daerah, mempererat persaudaraan pesisir dari Jawa hingga Sulawesi, dari Kalimantan hingga Papua.

“Bagi yang belum beruntung jangan berkecil hati. Yang utama dari festival ini bukan hanya piala, melainkan kebersamaan, rasa persaudaraan, serta kreativitas yang kita tanamkan bersama,” tutur Vera menutup sambutannya.

Sebagai puncak perayaan, penutupan festival dilanjutkan dengan panggung hiburan rakyat. Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan penampilan penyanyi populer Budi Doremi dan Septi KDI. Musik, tarian, dan sorak gembira menutup festival dengan nuansa hangat dan akrab.

Festival layangan Donggala 2025 bukan sekadar tontonan di langit biru. Ia adalah cermin semangat baru, di mana olahraga tradisional, kreativitas lokal, dan persaudaraan lintas daerah bersatu. Dari Donggala, pesan itu mengangkasa: membangun bangsa bisa dimulai dari sehelai benang dan selembar kertas yang terbang bersama angin. (Sir)