Blitar – javanewsonline.co.id | Suasana khidmat mewarnai jalan penghubung Garum–Gandusari pada Selasa pagi, 23 September 2025. Ratusan petani dan warga sekitar berkumpul mengikuti tradisi adat Selamatan Seribu Takir – Nguri-Nguri Budaya “Metri Kirim Dawuhan”. Acara syukuran yang digelar Himpunan Petani Pemakai Air (HIPA) Kali Putih bersama gabungan kelompok tani dari empat kecamatan itu menjadi wujud rasa syukur atas limpahan hasil panen.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar turut hadir dalam acara ini. Kehadiran lembaga legislatif diwakili oleh Suwondo, anggota Komisi II, serta Mujib, S.M., anggota Komisi I. Mereka hadir untuk memberikan apresiasi sekaligus dukungan terhadap petani yang menjadi pilar ketahanan pangan daerah.
Tradisi tasyakuran seribu takir sudah lama hidup di kalangan masyarakat Blitar. Ritual ini tidak hanya melambangkan ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi, tetapi juga sarat nilai kebersamaan dan gotong royong. Takir wadah makanan tradisional dari daun—dibagikan kepada warga dan peserta sebagai simbol rezeki yang dibagi rata.
Dalam sambutannya, Suwondo menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembangunan sektor pertanian. “Petani adalah ujung tombak ketahanan pangan. Tradisi selamatan ini bukan hanya budaya, tetapi juga pengikat solidaritas di antara petani. DPRD mendukung penuh agar tradisi ini terus dilestarikan,” ujarnya.
Mujib menambahkan, keberlangsungan sektor pertanian menjadi perhatian serius DPRD. Ia berharap kegiatan budaya seperti Metri Kirim Dawuhan dapat terus menjadi momentum mempererat semangat kebersamaan. “Gotong royong yang terbangun melalui tradisi ini bisa menjadi modal sosial untuk memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Blitar,” katanya.
Hadirnya DPRD Kabupaten Blitar dalam acara ini sekaligus menunjukkan komitmen legislatif untuk selalu dekat dengan masyarakat. Tidak hanya dalam fungsi legislasi dan pengawasan, DPRD juga berupaya hadir dalam momen-momen penting yang menyentuh langsung kehidupan warga, termasuk tradisi yang menjadi identitas budaya daerah.
Kepala HIPA Kali Putih, selaku penyelenggara, menyampaikan bahwa tradisi ini sekaligus menjadi doa bersama agar aliran air irigasi tetap lancar, sehingga lahan pertanian terus produktif. Menurutnya, tanpa air yang terjaga dan pengelolaan yang baik, mustahil petani bisa meraih panen melimpah.
Selain ritual doa dan selamatan, acara ini juga diwarnai dengan pertunjukan kesenian rakyat yang melibatkan masyarakat setempat. Kesenian tersebut menambah semarak suasana, sekaligus memperlihatkan bahwa tasyakuran ini tidak hanya ritual spiritual, tetapi juga ajang pelestarian seni budaya daerah.
Komisi I dan II DPRD Kabupaten Blitar berharap, selain menjadi ajang syukur, tradisi selamatan dapat terus menjadi sarana memperkuat hubungan sosial antarpetani. Tradisi ini diyakini mampu menjaga harmoni masyarakat pedesaan di tengah tantangan modernisasi dan perubahan zaman.
Dengan dukungan legislatif, pemerintah daerah, dan masyarakat, sektor pertanian diharapkan terus tumbuh berkelanjutan. Tradisi syukuran seperti Seribu Takir menjadi pengingat bahwa pembangunan pertanian tidak bisa dilepaskan dari akar budaya yang menyatukan masyarakat. (Ida)

