Di bawah kibaran Sang Merah Putih yang berkibar perkasa di lapangan utama Kantor Bupati Sigi, Rabu (24/6/2026), Kabupaten Sigi resmi menapaki usia ke-18 tahun. Lebih dari sekadar perayaan seremonial, momentum hari jadi ini menjadi penegasan atas ketangguhan dan kerukunan masyarakat Sigi yang berkali-kali bangkit melawan badai ujian bencana melalui semangat gotong royong.
SIGI — Javanewsonline.co.id | Langkah tegap barisan pengibar bendera di lapangan utama Kantor Bupati Sigi menjadi penanda sebuah refleksi panjang, Rabu (24/6/2026). Kabupaten Sigi kini genap menapaki usia 18 tahun. Sebuah momentum yang tidak hanya menjadi ajang perayaan kematangan daerah, tetapi juga penegasan atas ketangguhan masyarakatnya dalam menghadapi berbagai badai ujian.
Upacara puncak peringatan hari jadi ini dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., yang hadir mewakili Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. Perhelatan sakral ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda, para tokoh pemekaran, serta perwakilan kepala daerah tetangga, termasuk Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala, Dr. Ir. H. Rustam Efendi, S.Pd., S.H., M.AP.
Ikatan Historis dan Ketangguhan Menghadapi Ujian
Kehadiran perwakilan Pemerintah Kabupaten Donggala dalam momentum ini membawa pesan persaudaraan yang mendalam. Di sela-sela acara, Sekda Donggala Rustam Efendi mengingatkan kembali tentang akar sejarah yang mengikat kedua wilayah. Bagi Donggala, kemajuan Sigi adalah bagian tak terpisahkan dari kemajuan bersama di Sulawesi Tengah.
“Donggala dan Sigi memiliki ikatan historis dan geografis yang sangat kuat. Kolaborasi yang erat menjadi kunci utama dalam memajukan kesejahteraan masyarakat di kedua wilayah,” ujar Rustam hangat.
Perjalanan hampir dua dekade Kabupaten Sigi diakui tidak dilalui di atas karpet merah. Membacakan sambutan tertulis Gubernur, Wagub Reny Lamadjido mengulas balik bagaimana Sigi berkali-kali diuji oleh keterbatasan infrastruktur hingga rentetan bencana alam, termasuk gempa bumi yang belum lama ini melanda. Namun, dari rentetan ujian tersebut, masyarakat Sigi justru memperlihatkan daya bangkit (resilience) yang luar biasa.
Semangat itu tercermin erat dalam tema yang diusung tahun ini: “Sigi Peduli, Sigi Berbagi, Sigi Maju; Pakaroso”. Istilah lokal Pakaroso menjadi motor penggerak jiwa gotong royong yang menguatkan hati warga untuk saling menopang dalam kedukaan maupun pembangunan.
Lonjakan IPM dan Syiar Al-Qur’an
Ikhtiar kolektif Sigi untuk keluar dari zona pascabencana mulai membuahkan hasil nyata pada sektor pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sigi konsisten merangkak naik, dari angka 70,90 pada tahun 2024 menjadi 71,00 pada tahun 2025. Sebuah indikator bahwa kualitas hidup, akses pendidikan, dan pemulihan kesehatan masyarakat berada di jalur yang tepat.
Guna mempercepat akselerasi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengintegrasikannya melalui “Program Berani Lancar” yang digulirkan per Juni 2026. Program strategis ini berfokus pada penguatan konektivitas wilayah melalui pembangunan jalan dan jembatan strategis, demi memperlancar distribusi ekonomi warga hingga tahun 2030.
Tak hanya tangguh secara fisik dan ekonomi, Sigi juga memperlihatkan keluhuran nilai spiritualnya. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah, Sigi membuktikan komitmennya terhadap syiar keagamaan dengan sukses menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah sebuah pencapaian yang mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah provinsi.
Senandung Puisi dan Sinyal Inovasi
Suasana upacara yang sarat formil seketika berubah haru dan khidmat saat Jihan Nanda Khairani melangkah maju. Siswa SD IT Insan Gemilang Sigi yang juga Juara I Lomba Puisi Dinas Perpustakaan Sigi itu melantunkan bait-bait puisi dengan penuh penghayatan, menggambarkan rasa cinta generasi muda pada tanah kelahirannya.
Sebagai wujud kesiapan menyongsong masa depan, peringatan HUT ke-18 ini juga dirangkaikan dengan peluncuran berbagai inovasi daerah, penyerahan bantuan bagi warga terdampak gempa dari berbagai elemen peduli, serta penganugerahan penghargaan kepada individu dan lembaga yang dinilai berkontribusi besar bagi kemajuan daerah.
Dari lapangan Sigi, sebuah pesan kuat berembus ke seluruh penjuru Sulawesi Tengah: dengan kepedulian yang berbagi dan jiwa yang Pakaroso, Sigi siap melangkah mantap menjadi daerah yang mandiri, tangguh, dan kompetitif.(Sir)

