Warga Pulau Sipora kini tak lagi harus mempertaruhkan keselamatan menyeberangi sungai dengan rakit kayu atau jembatan pohon kelapa. Melalui Program Padat Karya Berskala Besar TNI AD 2026, jembatan permanen dan Jembatan Gantung Merah Putih sepanjang 60,5 meter resmi rampung dikerjakan, membuka akses vital yang menghubungkan desa-desa terisolasi sekaligus memacu roda perekonomian masyarakat di wilayah terluar Kepulauan Mentawai.

Oleh: Rijon

Bertahun-tahun lamanya, aliran sungai selebar 60,5 meter di Dusun Ngaik, Desa Beriulou, menjadi pemisah yang menyulitkan aktivitas warga Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Untuk menyeberang, warga harus bertaruh keselamatan mengandalkan rakit kayu bertali tambang. Di sudut jalan nasional lainnya, beberapa ruas yang sudah beraspal beton justru terputus oleh jembatan darurat dari batang pohon kelapa.

Wartawan Java News Syamsurijon SH, Wawancara exlusive Bersama Dandim Letkol. Bambang Budi Hartarto di lokasi jembatan gantung Desa Beriulou

Kini, pemandangan berisiko itu resmi menjadi kenangan. Program Padat Karya Berskala Besar TNI AD Tahun Anggaran 2026 telah menuntaskan pembangunan tiga jembatan strategis yang kini kokoh berdiri menghubungkan antardesa di Pulau Sipora.

Meninjau langsung lokasi proyek yang telah rampung pada Selasa (25/8/2026), Dandim Kepulauan Mentawai Letkol Bambang Budi Hartarto menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur ini merupakan bentuk perwujudan kepedulian TNI AD terhadap kebutuhan mendesak masyarakat pelosok.

Dandim Kep.Mentawai
Letkol Bambang Budi Hartarto
Berfoto salam Komando
Bersama Babinsa setempat
Desa Bosua sipora selatan
Sertu Osten Sinaga di Atas
Jembatan Gantung
merah putih Kondisi
siap pakai 100%

“Awalnya kami mengadakan survei bersama Babinsa Desa Bosua, menerima masukan dari masyarakat Beriulou serta Kepala Desa. Begitu mengecek langsung ke lokasi, kami melihat jalurnya sangat urgensi dan butuh penanganan tepat sasaran. Makanya jembatan gantung Merah Putih ini jadi prioritas utama Padat Karya TNI AD 2026,” ujar Letkol Bambang Budi Hartarto saat ditemui di lapangan.

Meski agenda Padat Karya Berskala Besar secara resmi ditutup pada 24 Juni 2026 lalu, pengerjaan fisik terus dilanjutkan hingga seluruh jembatan rampung 100 persen dan aman digunakan.

  • Jembatan Gantung Merah Putih Beriulou: Membentang sepanjang 60,5 meter menembus anggaran Padat Karya murni TNI AD lebih dari Rp500 juta. Jembatan ini mengakhiri era penyeberangan rakit kayu yang berisiko bagi warga Dusun Ngaik dan Desa Beriulou.
  • Jembatan Permanen Bosua: Berstruktur beton cor berkerangka besi di jalur Jalan Raya Nasional Sipora menuju Desa Katiet, kini melancarkan akses kendaraan roda dua maupun roda empat.
  • Jembatan Merah Putih Katiet: Menggantikan struktur darurat dari pohon kelapa, menjadi urat nadi penghubung utama bagi mobilitas warga dari Sipora Selatan menuju Sipora Utara (Tuapeijat).

Napas Baru Bagi Ekonomi Warga

Rasa syukur terpancar dari wajah para penduduk lokal. Kehadiran infrastruktur permanen ini tak sekadar mempermudah mobilitas harian, tetapi juga memangkas potensi bahaya saat membawa hasil bumi.

“Kami sangat bersyukur sekali ada bantuan jembatan gantung ini yang dibangunkan TNI AD. Dulu sebelum jembatan selesai, kami harus menyeberang sungai pakai rakit kayu ditarik tali tambang,” ungkap Yuluis, tokoh pemuda Dusun Ngaik.

Senada dengan Yuluis, Soldi, warga Desa Katiet, merasa lega karena kini tak perlu ragu lagi saat melintas. “Sangat bermanfaat sekali. Sekarang kami tidak ragu-ragu lagi melewati jalan ini, tidak seperti dulu waktu masih dari pohon kelapa. Kami mewakili masyarakat Desa Katiet mengucapkan terima kasih kepada program Padat Karya TNI AD,” tutur Soldi.

Kini, bentangan Jembatan Merah Putih tak hanya menghubungkan daratan yang terpisah sungai, tetapi juga menyambung asa dan roda perekonomian masyarakat Kepulauan Mentawai menuju masa depan yang lebih aman dan sejahtera.