Oleh : Symsurijon, SH
Di tengah rasa galau dan ketidakpastian dalam mencari pasangan hidup, fokus memperbaiki diri menjadi ikhtiar tertinggi seorang hamba untuk meraih kepastian janji Allah SWT
Rasa galau dan resah sering kali menyapa tatkala manusia dihadapkan pada ketidakpastian hidup, terutama dalam urusan mencari pasangan hidup. Ketakutan akan salah memilih atau harapan yang tak bersambut acap kali menguras energi batin. Namun, dalam ajaran Islam, obat terbaik untuk melintasi setiap dinamika kehidupan sejatinya sederhana: bersyukur dan bersabar.
Ketua LBH Java News Media sekaligus penceramah, Syafrizen SH Datuk Rang Batuah yang akrab disapa Ustadz Zen Hoki (UZH) mengingatkan pentingnya memahami hakikat janji Allah SWT di tengah ketidakpastian dunia. Menurutnya, fokus utama seorang hamba bukanlah sibuk mengkhawatirkan hasil akhir, melainkan bagaimana sibuk mendidik dan mengajak diri sendiri menjadi pribadi yang lebih baik secara konsisten.
“Mencari jodoh yang baik sering kali membuat kita khawatir akan meleset atau salah memilih. Namun yang terpenting adalah sebuah kepastian. Ikhtiar terhebat dan tugas mendesak kita saat ini adalah bagaimana mengajak diri sendiri menjadi orang yang baik,” ujar UZH.
Ia menegaskan bahwa berdedikasi menjadi pribadi mulia merupakan janji yang tidak akan pernah dimungkiri oleh Sang Pencipta. Berbeda dengan janji manusia yang kerap kali meleset atau diingkari, janji Allah SWT bersifat mutlak dan pasti. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan demikian pula sebaliknya.
Lebih jauh, UZH menjelaskan bahwa ketika seseorang fokus memperbaiki kualitas diri dan ketakwaannya, Allah SWT tidak hanya membalasnya dengan melimpahkan jodoh yang saleh atau salehah. Lebih dari itu, kebaikan tersebut akan menaungi empat aspek krusial dalam perjalanan hidup manusia.
“Jika kita sudah menjadi baik, Allah SWT tidak hanya memberikan jodoh yang baik. Empat perkara utama yaitu langkah, rezeki, pertemuan, dan maut akan dijadikan dan disuasanakan dalam keadaan yang baik pula. Bahkan alam semesta, bumi, dan langit akan ‘berdamai’ serta berbuat baik kepada kita,” paparnya.
Untaian kalimat Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar menjadi refleksi mendalam bahwa segala urusan di dunia berada di bawah kendali Yang Maha Kuasa. Mengubah garis hidup dimulai dari keberanian membenahi diri sendiri hari ini, tanpa menunda-nunda.
Melalui ikhtiar memperbaiki diri dan saling mendoakan dalam kebaikan, kehidupan akan diliputi oleh kelapangan, keselamatan, kemuliaan, serta keberkahan. Ketenangan batin yang diraih bukan hanya untuk kebahagiaan dunia yang sementara, melainkan pula modal keselamatan abadi di akhirat kelak.
Disunting wartawan senior syamsurijon.SH

