Jauh sebelum gaung festivalnya menggema di pesisir Desa Towale, selembar kain tenun Buya Subi telah memikat panggung internasional dari Busselton hingga Florence. Keunikan tradisi tenun Donggala inilah yang kini membawa produk unggulan berkarakter Indikasi Geografis tersebut bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata Sulawesi Tengah di kancah global.
DONGGALA — Javanewsonline.co.id | Desau angin dan deburan ombak di Kawasan Wisata Pantai Karampuana, Desa Towale, Kabupaten Donggala, menjadi saksi bisu sebuah momentum bersejarah. Di bawah semburat jingga matahari terbenam, sehelai kain tradisional tidak hanya dipamerkan, melainkan diceritakan sebagai sebuah mahakarya yang sarat nilai filosofi kehidupan Suku Kaili.

Hari itu, Buya Subi Festival 2026 resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reni A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., yang hadir mewakili Gubernur Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. Perhelatan ini menegaskan bahwa kekayaan nusantara dari bumi Sulawesi Tengah siap mengambil peran penting dalam industri fesyen berkelanjutan (sustainable fashion) di kancah global.
Menembus PBB Lewat Jalinan Benang
Pesona kain tenun tangan Buya Subi ternyata telah melanglang buana sebelum festival ini digelar. Pendiri Eco Fashion Week Australia, Zuhal Kuvan Mills, mengisahkan awal mula ketertarikannya. Berawal dari pertemuan dengan Dinas Pariwisata Sulteng di Busselton (2024) dan Florence (2025), selembar kain Buya Subi langsung memikat hatinya.
Bagi Zuhal, jika selama ini dunia internasional lebih akrab dengan batik, maka Buya Subi memberikan kedalaman rasa yang berbeda. Kain ini bukan sekadar komoditas visual, melainkan sebuah artefak budaya yang menyimpan narasi turun-menurun tentang perempuan dan kehidupan masyarakat Kaili.
Ketertarikan itu mewujud menjadi ‘Proyek Buya Subi’. Sebuah inisiatif serius yang kini bahkan telah didaftarkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam program Women, Fashion and Lifestyle. Sebuah pencapaian yang mengangkat derajat pengrajin perempuan lokal ke panggung diplomasi internasional.
“Buya Subi Festival bukan sekadar agenda budaya, tetapi bukti kekayaan nusantara kita bernilai tinggi dan mampu menjadi bagian fesyen berkelanjutan tingkat dunia,” ujar Wagub Reni A. Lamadjido penuh optimisme.
Identitas Geografis dan Kesejahteraan Warga
Pemerintah Kabupaten Donggala melihat festival ini sebagai hulu dari kebangkitan ekonomi kreatif. Sekretaris Daerah Donggala, Dr. Ir. H. Rustam Efendi, S.Pd., SH., M.AP., menegaskan bahwa Tenun Donggala kini telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis. Hal ini memperkuat posisinya sebagai identitas budaya sekaligus produk unggulan yang dilindungi.
Pemerintah Provinsi pun berkomitmen penuh dengan menetapkan Desa Towale sebagai desa wisata unggulan, sekaligus mengunci festival ini sebagai agenda tahunan hingga tahun 2030.
“Kami ingin festival ini memperkuat ekonomi kreatif, membuka peluang usaha bagi UMKM lokal, dan menjaga keberlanjutan warisan budaya agar tetap hidup di tingkat dunia,” tutur Rustam Efendi.
Catatan Manis di Tepian Karampuana
Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi pelestarian budaya, Wakil Gubernur menyerahkan piagam penghargaan kepada para desainer dan perwakilan model yang menjadi ujung tombak promosi kain eksotis ini.
Acara kemudian mencapai puncaknya melalui Sunset Fashion Show. Sebanyak 18 model internasional dan nasional berlenggang membawakan 55 mahakarya busana berbahan Buya Subi. Keindahan tenun tersebut berpadu elok dengan latar belakang matahari terbenam Pantai Karampuana.
Perhelatan berskala internasional ini turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Duta Besar Spanyol, Duta Besar Australia, jajaran Forkopimda, Ketua Dekranasda, serta para tokoh adat dan agama. Kehadiran para diplomat asing ini menjadi sinyal kuat bahwa dari sebuah desa di pesisir Donggala, sehelai kain tenun mampu merajut jembatan persahabatan antar-bangsa. (Sir)

