Oleh: Syamsurijon

Di bawah remang lampu Homestay Mappaddegat dan deburan ombak Sipora yang tak pernah tidur, sebuah konspirasi masa depan tengah dirancang. Malam itu, di tanah para Sikerei, anak-anak muda Mentawai berkumpul untuk menagih janji atas karunia paling mahal di pesisir mereka: 400 titik ombak kelas dunia dan seni tato tertua di muka bumi.

Lantunan desir angin dan gulungan ombak malam di Pantai Mappaddegat, Sipora Utara, menjadi saksi bisu dari sebuah gagasan besar yang tengah ditanam. Sabtu malam (8/11/2026), keremangan Homestay Mappaddegat berubah menjadi panggung gagasan hangat. Puluhan anak muda yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kepulauan Mentawai berkumpul melingkar, menggelar diskusi ilmiah bertajuk masa depan pariwisata dan seni budaya di tanah kelahiran mereka.

Mentawai bukan sekadar gugusan pulau di barat Sumatra. Bagi jagat selancar internasional, Kepulauan Mentawai adalah surga yang diberkahi tak kurang dari 400 titik spot surfing dengan karakteristik ombak kelas dunia. Belum lagi kekayaan adat Budaya Sikerei yang menghiasinya salah satunya seni lukis tubuh atau Tato Mentawai, yang menurut riset Universitas Andalas Padang tercatat sebagai seni tato tertua di dunia. Potensi raksasa inilah yang memicu energi para pemuda untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.

Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, yang hadir sebagai pembicara utama, meletupkan visi berani di hadapan para pemuda. Ia mengusulkan sekaligus merencanakan deklarasi resmi Kepulauan Mentawai sebagai Ibu Kota Surfing Dunia.

“Kita berencana membangun ikon spektakuler sebuah monumen patung dan papan selancar raksasa. Harapannya, setiap surfer dunia yang datang merasa wajib menjejakkan kakinya di sana. Ini cita-cita besar kita, dan generasi muda Mentawai harus berada di garda depan untuk mewujudkan mimpi ini,” ujar Rinto penuh optimistis.

Gagasan sang Bupati menyulut respons hangat dari para pelaku sejarah dan penggiat pariwisata lokal. Anom Suheri, atau yang akrab dipanggil Uda Un, membagikan rekam jejak panjangnya memandu turis asing sejak 1988 jauh sebelum Mentawai mekar menjadi kabupaten sendiri. Menurut anggota DPRD Mentawai ini, ombak Mentawai adalah ‘tambang emas’ yang harus dikelola secara profesional dan inklusif.

“Ombak ini karunia Tuhan yang luar biasa nilainya. Namun, pariwisata itu kompleks dari A sampai Z. Efek ekonominya harus dirasakan langsung oleh masyarakat tempatan. Pemuda tidak boleh gagap, mereka harus memegang peran strategis,” kata Anom, yang pernah mengawal lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Pengelolaan Ombak Surfing pada 2009 silam.

Perspektif kebudayaan disuntikkan oleh pengamat budaya Mentawai, Juniator Tulius. Ia menyoroti pentingnya menjaga mutu cendera mata lokal dan menyiagakan SDM muda melalui institusi formal. “Mentawai butuh sekolah surfing sendiri. Kita harus membekali anak-anak muda kita dengan keterampilan pemandu dan standar pelayanan prima untuk tamu-tamu internasional tanpa kehilangan akar identitasnya,” tegas Juniator.

Dari sudut pandang legislatif, anggota DPRD Mentawai, Nelson, memetakan empat prasyarat krusial yang wajib dibenahi pemerintah daerah: penuntasan Tata Ruang Daerah (termasuk Mappaddegat), penyelarasan RPJMD agar tak berbenturan dengan Perda Tata Ruang, peningkatan alokasi APBD untuk sektor pariwisata, serta penguatan benteng budaya bagi pemuda lokal agar tak tergerus budaya asing.

Menjawab tantangan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Mentawai, Aban Barnabas, menegaskan bahwa pemerintah telah mematenkan identitas pariwisata daerah melalui branding resmi: “Surf and Soul” (Perpaduan Selancar dan Jiwa Budaya).

“Kami akan menyiapkan serangkaian pelatihan industri kreatif dan kepariwisataan bagi pemuda. Sinergi ini akan terus kita kawal melalui ruang-ruang diskusi lanjutan,” janji Aban.

Diskusi yang dipandu Ketua KNPI Kepulauan Mentawai, Ibran Paranta Saleulubaja, dan dihadiri pula oleh Ketua Kadin Sumbar Ir. Buchari Bachter Datuk Panduko Sinaro serta perwakilan pengelola resort Katiet, Ica, itu akhirnya harus ditangguhkan tatkala malam kian larut. Meski begitu, satu kesimpulan telah terpahat: jalan menuju Ibu Kota Surfing Dunia baru saja dimulai, dan pemuda Mentawai telah siap mengambil alih kemudi.